Senja itu beringsut pelan di ufuk barat, memulas langit Kampus UNUGIRI dengan gradasi oranye dan ungu. Angin sore berembus lembut, menerbangkan helai-helai rambut Rekan Aris dan Rekanita Adel yang tengah duduk di bangku panjang, memandangi keramaian mahasiswa yang lalu-lalang di pelataran Rektorat. Di tangan Rekan Aris, secarik kertas bertuliskan "Surat Keputusan Demisioner" terasa begitu nyata, meski hatinya masih enggan menerima.
"Rasanya baru kemarin kita dilantik, ya, Ris?" Rekanita Adel memecah keheningan dengan suaranya. Rekan Aris menoleh, menatap mata Rekanita Adel yang penuh dengan kenangan yang pernah mereka ukir bersama. Satu tahun bukan waktu yang singkat. Satu tahun mereka berlayar bersama, menakhodai kapal PK IPNU IPPNU UNUGIRI melewati badai dan gelombang.
Rekan Aris ingat betul bagaimana dulu ia dan Rekanita Adel, dengan keringat dan ide-ide segar, berjuang keras menghidupkan kembali semangat organisasi. Dari diskusi-diskusi sengit di sekretariat yang kadang berlangsung hingga larut malam, hingga gelak tawa saat mereka berhasil menyelenggarakan acara besar yang sukses. Mereka telah melalui banyak hal: membimbing kader-kader baru, menghadapi tantangan birokrasi, bahkan berhadapan dengan isu-isu yang tak terduga.
"Banyak banget pelajaran yang kita dapat, Del," kata Rekan Aris. "Dari yang awalnya grogi bicara di depan banyak orang, sampai sekarang rasanya sudah terbiasa. Dari yang bingung mau mulai dari mana, sampai bisa merancang program kerja yang berdampak."
Rekanita Adel tersenyum tipis. "Paling penting, kita belajar tentang arti sebuah keluarga. IPNU IPPNU ini bukan cuma organisasi, Ris, tapi rumah. Rumah tempat kita tumbuh, belajar, berjuang, dan berbagi."
Tiba-tiba, Rekan Aris teringat pesan dari salah satu seniornya saat awal menjabat. "Organisasi itu seperti estafet. Kita hanya pelari di satu jalur. Penting untuk memastikan tongkat itu sampai ke tangan berikutnya dengan selamat dan semangat yang sama."
"Setelah ini, kita akan jadi demisioner," kata Rekan Aris, mencoba mengolah perasaannya. Ada sedikit rasa lega, namun juga haru yang mendalam. "Tongkat kepemimpinan akan beralih."
Rekanita Adel memanggil Rekan Aris. "Dan kita harus yakin, penerus kita jauh lebih siap, Ris. Mereka punya semangat yang sama, bahkan mungkin lebih membara. Tugas kita sekarang adalah memberikan semangat itu, meyakinkan mereka bahwa mereka mampu, dan bahwa perjalanan ini akan sangat berarti."
Kala itu, dalam suasana keakraban bersama seluruh pengurus, Rekan Aris dan Rekanita Adel menyampaikan pidato perpisahan. Suara mereka bergetar, namun penuh keyakinan. Mereka berbagi cerita, pengalaman, dan tentu saja harapan, supaya IPNU IPPNU UNUGIRI bisa lebih hebat dari masa yang mereka pimpin.
"Kepada rekan-rekan pengurus yang akan meneruskan perjuangan," Rekan Aris memulai, suaranya lantang namun tulus. "Kalian adalah masa depan PK IPNU IPPNU UNUGIRI. Jangan pernah ragu pada kemampuan diri kalian. Kalian punya energi, inovasi, dan yang terpenting, niat yang tulus untuk memajukan organisasi ini."
Rekanita Adel menambahkan, dengan sorot mata penuh harap, "Kalian akan menghadapi tantangan baru. Dunia terus berkembang, dan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, akan semakin meresap ke dalam setiap aspek kehidupan. Kalian, jangan takut menghadapinya. Jadikanlah kecerdasan buatan sebagai alat, bukan pengganti kita. Manfaatkan AI untuk membantu kalian dalam menyusun program, menganalisis data, atau bahkan berinteraksi dengan anggota secara lebih efisien."
"Namun," lanjut Rekan Aris, "ingatlah selalu bahwa esensi dari organisasi ini adalah interaksi manusiawi, kekeluargaan, dan nilai-nilai luhur. Kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa menggantikan sentuhan personal, empati, dan kebijaksanaan yang hanya bisa muncul dari hati nurani manusia. Jaga selalu semangat gotong royong, musyawarah, dan kekompakan kalian. Pertahankan nilai-nilai Ahlusunnah wal Jama'ah, dan jadikan itu sebagai landasan dalam setiap langkah kalian."
Rekan Aris dan Rekanita Adel juga berpesan agar para penerus tidak terpaku pada cara-cara lama. Mereka mendorong untuk berani berinovasi, menciptakan terobosan baru, dan berpikir di luar kebiasaan, serta membangun kekompakan yang kuat. "Buka mata lebar-lebar untuk melihat peluang. Belajar dari setiap kesalahan. Dan yang paling penting, jangan pernah berhenti belajar," ujar Rekanita Adel.
Mentari pagi esoknya menyingsing, membawa semangat baru. Rekan Aris dan Rekanita Adel memang telah demisioner dari jabatan mereka. Namun, semangat, ilmu, dan nilai-nilai yang mereka tanamkan akan terus hidup dan berkembang di PK IPNU IPPNU UNUGIRI. Mereka tahu, tongkat estafet akan diserahkan pada tangan-tangan yang tepat tangan-tangan yang akan terus membawa bendera PK IPNU IPPNU UNUGIRI berkibar tinggi, layaknya burung elang, aman dari ancaman apa pun, dan terus melaju ke depan tanpa gentar menghadapi apapun.
Penulis: M. Rifky Prasetyo

Komentar
Posting Komentar