Di ujung senyap malam yang redup,
kupejamkan mata dengan dada yang sesak,
aku si bungsu yang selalu dianggap kecil,
menyimpan ribuan tanya di balik diamku yang lemah.
Langkah kakak-kakakku jelas dan pasti,
suara mereka lantang menembus waktu,
sedang aku?
masih bertanya: siapa aku dalam hidupku?
Ayah dan Ibu mata mereka menuntut tinggi,
langkahku selalu dibanding,
senyumku dibaca sebagai ragu,
dan keputusanku…
sering dianggap keliru.
Aku takut, Ibu…
takut jadi kesalahan dalam takdir,
takut melangkah lalu jatuh
dan hanya terdengar tawa sebagai balas,
bukan peluk.
Di dalam dadaku ada badai,
keraguan yang tak bisa kutidurkan,
aku menangis dalam sunyi,
bukan karena lemah
tapi karena tak tahu harus menjadi siapa.
Menjadi anak bungsu bukan selalu dimanja,
kadang hanya jadi yang terakhir dipercaya,
diberi kasih, tapi bukan percaya,
diberi arahan, tapi tak diberi suara.
Tolong, jangan anggap tangisku kekanak-kanakan,
ini jerit dari jiwa yang sedang tumbuh,
ingin diterima bukan karena kecil,
tapi karena bisa,
karena layak untuk juga menentukan arah.
Aku tidak ingin terus ragu,
aku ingin yakin,
tapi bagaimana bisa yakin
kalau setiap keyakinanku disalahkan?
Aku hanya ingin satu hal
diberi ruang untuk menjadi aku,
meski aku anak bungsu,
tapi hatiku juga ingin tumbuh
dan diakui… bukan hanya dilindungi.
Penulis: Nurma Rodhotul Khikmah

Komentar
Posting Komentar